Rabu, 11 April 2012

Kisah Sayidina Ali "antara nafsu dan pengendalian diri"

Suatu hari ketika Sayidina Sayidina Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. Sayidina Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi kerana pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”

“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.

“Baiklah kalau begitu,” jawab Sayidina Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan”, tanya orang itu kebingungan.
“Bukankah saya ini musuhmu?”
Sayidina Ali memandang tepat di matanya dan berkata, “Kamu bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, kerana itu majulah dan seranglah aku”.
Tetapi orang itu tidak mampu. “Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas Sayidina Ali.
“Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan kebijakanmu. Iaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku.”
“Inikah cara Islam?” Orang itu bertanya.
“Ya,” jawab Sayidina Ali, “Ini adalah Firman Allah, yang Maha Kuasa, dan Maha Satu.”
Dengan segera, orang itu bersujud di kaki Sayidina Ali dan memohon, “Ajarkan aku syahadat.”
Dan Sayidina Ali pun mengajarkannya, “Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah.”
Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. Sayidina Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi dia tidak membunuh orang itu.
“Mengapa kamu tidak membunuh aku?” Orang itu berteriak dengan marah.
“Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?” Dan dia meludahi muka Sayidina Ali.
Mulanya Sayidina Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya.
“Aku bukan musuhmu”, Sayidina Ali menjawab.
“Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan tercatit atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu.”
“Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?” orang itu bertanya.
“Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan”. Sayidina Ali menjelaskan kepadanya. “Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk
membunuhmu, aku tak boleh.”
“Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?”
“Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam.”
Dengan segera orang itu tersungkur di kaki Sayidina Ali dan dia juga diajarkan dua kalimah syahadat sebagai tanda keIslaman dan keimanannya.

Jumat, 16 Maret 2012

Ayah..

Dlm sebuah hadist Rasulullah SAW menyatakan bahwa di antara makhlukNYA yg paling kita hormati adalah IBU.
Tentu tak usah di ragukan dan di perdebatkan lg tentang kasih sayang ibu yg menurut orang "sepanjang jalan" (menurut saya sih tak berbatas).
Sudah sangat jamak kalau dengan ibu-lah kita menjadi sangat tenang,damai,dan mampu dg begitu intimnya bercerita tentang segala hal dlm diri kita. Namun secara tidak sadar kita juga melupakan bagaimana seorang ayah sangat berperan. Yang sering terjadi adalah kita merasa bahwa seorang ayah adl orang yang kita takuti dg kewibawaannya dan suaranya yg menggelagar,yang kita hormati karena perintahnya yg tegas,yang kita "keder" dg kemarahan-kemarahannya. Dengan segala "keangkeran" seorang ayah itu secara tidak sadar hubungan,kasih sayang,dan kedekatan kita pun akan berbatas kepada beliau.
Namun tak ada kata kecewa,tidak ada raut kesedihan terpancar dari wajah ayah bahkan ketika beliau tahu masalah yg kita hadapi dari istri beliau, ibu, karena kita tak berani bercerita kepadanya. Atau ketika kita tak sadar ketika beliau sangat khawatir terhadap kondisi kesehatan kita, karena ketika itu beliau tak ada di samping kita untuk menemani, beliau ada di luar, di jalan,berlomba dengan waktu dan berkeringat untuk mencari dana kesembuhan kita. Bahkan ketika kita tertidur pulas dr pengaruh sakit dan obat kita, kita tak pernah tahu dalam tingkat kepayahan yg sangat beliau duduk menggantikan ibu untuk memberikan waktu bagi ibu beristirahat.
Ya dengan segala ego dan ke-"macho"-an ayah banyak hal yang tidak kita sadari. Ditambah pula dengan ke-pendiam-an beliau,rasa gengsi beliau yang membuat kita jauh. Pekerjaan-pekerjaan yang ayah lakukan semata hanya untuk kita, sekalipun tak pernah beliau bercerita kesusahan yg beliau hadapi..semata2 karena beliau tak ingin membebani kita..sadarkah kita? Waktu akan terus berjalan sudahkah kita melakukan yg terbaik untuk ayah kita? Mengingat nasihat2 beliau dan mencoba menata kembali hubungan yang renggang diantara kita? Ya Aku Rindu Ayah...





Rabu, 14 Maret 2012

Sebentuk Kata

Kemilau dunia memang sangatlah menggoda,segala kenikmatan terpancar darinya..
Daya tarik sebongkah batu bahkan bisa melampaui harga sebuah nyawa..
Apa yg tersimpan,apa yg menjadi suatu misteri menghilang dlm tubuh wanita..
Ketika apa yg tersimpan terhampar,semua mata akan terpukau terpesona..
Duhai engkau harta dunia..
Sinarmu lapuk oleh waktu kematian..
Namun banyak jiwa-jiwa ini berlari,memekik mendambamu..
Duhai engkau harta dunia,.
Sinarmu membutakan jiwa-jiwa agung itu dalam kenistaan..
Ya Allah Tuhan seru sekalian alam..ampunkanlah kami yg terjerembab dalam lubang kehinaan..
Ya Allah Tuhan pemilik dan penjaga jagad raya,balikkanlah hati kami agar tak dikuasai harta dunia..
Ya Allah Yang Maha Besar dan Berkuasa,sungguh besar pula keinginanku menjadi hambaMU yg KAU akui..
Ya Allah Sang Pembagi Rizki yang terbaik,sabarkanlah aku atas nikmat dan cobaanMU karena sesungguhnya cobaanMU adl rahmatMU
Ketika nafas ini KAU hentikan,ketika darah ini tak KAU ijinkan beredar..
Ketika mata ini tak KAU buka lagi..
Biarkanlah aku berada dalam peluk kasih-sayangMU,ampuni aku,rahmati aku.,

Jumat, 09 Maret 2012

Hari ini seperti hari yang sudah sudah,tak ada yang istimewa..hanya beranjak dari peraduan dan bersiap untuk melakukan rutinitas yang hampir setiap hari sama,meskipun berbeda itu hanya setitik saja..
Namun tak seperti yang terlihat,hatiku gundah melebihi yg sudah sudah. Melihat lalu lalangnya manusia di ibukota,mengingat bahwa hanya segelintir orang di masjid subuh pagi tadi, miris..
Akan seperti apakah zaman ini?
Ketika semua orang beranjak dari peraduannya,berangkat bekerja dan takut untuk terlambat tiba di kantor nya,namun hanya segelintir dari mereka yang takut dan gelisah ketika adzan berkumandang memanggil mereka kepada Allah SWT namun tubuh ini belum beranjak menujuNYA.
Aku jd teringat pada sebuah ayat yg paling sering di ulang dlm Al-Qur'an tepatnya dalam surat Ar-Rahman.."MAKA NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN ?" Dalam surat tersebut menurutku sangat banyak hal yg tersirat ataupun tersurat. Bahwasanya nikmat yg kita peroleh sungguhlah sangat banyak,namun kita sadari atau tidak kita telah sangat sangat mendustakannya baik itu dg perilaku ataupun hati kita.
Maka patutlah kita merasa malu akan hal tersebut,bayangkan bahwa ketika seorang bos atau perusahaan kita memberi gaji atau bonus kita bahkan tak akan pernah lupa hal tersebut. Atau ketika kekasih,suami/istri kita memberi sebuah kejutan kita tak kan pernah lupa.
Maka semoga apa yg telah menjadi nikmatNYA tak pernah kita lupakan,lihatlah ke bawah untuk menyadari nikmatNYA,namun apabila anda sudah berada di bawah ingatlah bahwa kita telah terlahir dg sesempurna bentuk,kita lahir telanjang dan lemah tanpa daya dan skrg kita sudah mampu berdiri,bergerak,mandiri,itu merupakan suatu kenikmatan.
Lihatlah ke atas hanya agar semangat kita berusaha mnjadi manusia yg terbaik tak luntur.

Jumat, 02 Maret 2012

Rinduku...

Bismillahirrahmanirrahim...                                                                                                    
                                                                                                                                      
Sungguh pada diri Muhammad Rasulullah-lah terdapat suri teladan yang terbaik. Bahkan dalam Al-Qur'an karim hal itu di sebutkan. Sungguh beruntung orang-orang yang hidup berdampingan dengan beliau, melihat bagaimana beliau bersikap, bagaimana beliau bertutur, bagaimana ketegasan dan kesabaran beliau. Bagaimana seorang penguasa sangat menyadari bahwa sesungguhnya dia adalah pelayan bagi orang yang dikuasai nya, seperti terlihat pada keseharian Rasulullah yang tak pernah mengharapkan umat dan rakyatnya membantu beliau, bahkan beliaulah yang sering berusaha meringankan beban umatnya.                                      
Perhatikan sikap beliau ketika di hadapkan kepada kejahilan Suku Quraisy yang dalam perjanjian Hudaibiyah menolak perjanjian ketika di dalam surat perjanjian tersebut di tandai Nabi SAW dengan nama "Muhammad Rasulullah", yang pada akhirnya diganti dengan "Muhammad bin Abdullah". Dimana pada kasus ini banyak di antara sahabat yang tidak rela dengan hal yang demikian, namun tidak demikian dengan Rasul agung ini, beliau dengan sabar menenangkan sahabat-sahabat beliau.                                                                     
Perhatikan pula bagaimana seorang pemimpin umat, pemimpin sebuah negara rela tidur di depan pintu kamar hanya karena tidak mau mengganggu tidur sang istri.                               Perhatikan bagaimana kecintaan beliau kepada umatnya, yang di dalam cerita masyhur di ceritakan bahwa ketika dalam sakaratul maut yang beliau ingat adalah kita umatnya. Pemimpin manakah yang mampu berbuat seperti itu?                                                                      
Bagaimana seorang manusia mampu sedemikian dicintai oleh manusia lain, bahkan oleh malaikat?                                                                                                                         
betapa rindu nya aku pada mu Ya Nabiyullah..                                                                              

Senin, 20 Februari 2012

Renungan Seorang Kakek.....

ini adalah sebuah email yang dikirimkan oleh seorang aktivis generasi islam pada tahun 1960-an, yang sekarang usia beliau kira2 70-an tahun. Sungguh seorang sosok yg patut mendapat apresiasi tersendiri, meskipun beliau sudah tua namun beliau mampu berpikir kritis demi agama islam ke depannya. Berikut isi email tersebut :

" Sahabatku, saya ingin sampaikan renungan berikut ini. Di tempat saya tinggal ada sebuah masjid yang cukup besar. Kalau jum'atan jamaah yang mengisi sekitar 700-an orang dan 40-an kalau waktu subuh. Masjid ini adalah masjid kompleks dengan 600-an rumah. Jika Jum'at hanya ada beberapa anak remaja, kalau maghrib ada 2-3 orang remaja, sedangkan Isya' dan Subuh tidak ada anak remaja yang ikut shalat jamaah. Kalau Subuh hanya ada 3 orang yang berumur muda di bawah 50 tahun, selainnya adalah jamaah yang berumur 50 th keatas. Di Masjid lain sekitar perumahan kami, keadaannya hampir serupa. Selain tentunya masjid desa yang masih ramai diisi oleh remaja dan anak muda."

" Kalau tidak salah ini akibat kita tidak punya banyak da'i yang serius membina umat. Banyak muballigh ( bukan da'i) yang datang berdasarkan undangan dan di bayar. Saya kira kita butuh juru dakwah (da'i) yang bekerja sungguhan bagi yang mengajar karena panggilan hidup dan penuh dedikasi. Sayangnya muballigh itu kan perlu penghasilan juga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, sehingga mereka "terpaksa" mejadi muballigh dan bukannya menjadi da'i. Oleh karena itu, hal ini perlu kita pikirkan dengan sungguh-sungguh, yaitu harus ada lembaga agama islam yang memikirkan kehidupan para da'i kita. Dimana mereka tidak boleh menerima honor dari pihak yang mengundang. kiranya lembaga BAZIS kita dan lembaga waqaf kita perlu di arahkan untuk mulai memikirkan masalah ini, bukan  sekedar memikirkan anak yatim dan fakir miskin belaka. Tapi juga bagaimana dakwah Islam dimasa depan bagi bangsa Indonesia ini."

" Saya ingat pada tahun 1980-an ramai pembicaraan tentang generasi muda Eropa yang tidak pergi ke gereja. Sampai-sampai gereja di jual dan di beli oleh umat islam dan di jadikan masjid. Pada awal 1990-an saya sempat shalat di masjid tersebut, dan waktu itu saya berpikir bahwa hal itu tidak akan terjadi pada umat Islam di Indonesia. Tetapi sekarang saya ragu, apakah keyakinan saya pada awal tahun 1990-an itu tetap benar dan masih berlaku sampai masa sekarang. Karena sekarang ada tanda-tanda masjid sudah sepi dari generasi muda dan dari anak remaja."
" Sementara itu saya perhatikan ormas-ormas Islam yang banyak itu tidak mengambil perhatian yang serius terhadap masalah dakwah ini. Bahkan kesannya ormas-ormas Islam itu lebih sibuk dengan kegiatan politiknya, setidak-tidaknya ikut larut dalam proses "politiking" yang terjadi pada masyarakat politik, bahkan tidak jarang ormas dijadikan alat politik untuk mengincar posisi tertentu."

" Kiranya keadaan ini bisa menjadi perhatian mu sahabatku, karena aku berharap hal ini bisa di masyarakatkan."

demikianlah kawan...
sepenggal pikiran dari seorang kakek yg sangat menusuk, ketika kita di sibukkan dengan berbagai macam hal kita seakan melupakan dasarnya..
tapi saya percaya,di balik sana, di balik punggung kami masih banyak da'i-da'i yg tetap berpegang teguh pada tujuan memajukan umat                                                             
      wallahu "alam bisshowab.....

Jumat, 03 Februari 2012


Bismillahirrahmanirrahim....

Sebagai pribadi muslim kita tentunya pernah mendengar cerita tentang bapak kita, penghulu kita Nabiyullah Adam AS…

Anda sekalian mungkin sudah sangat sering mendengar atau malah sudah hafal dengan kisah tersebut dimana Nabi Adam AS diciptakan dan bertempat tinggal di surga, namun karena bujuk rayu setan laknatullah, maka beliau pun di “usir” ke dunia ini. Apa penyebabnya? Al-Qur’an jelas sekali mengisahkan bahwa penyebab diusirnya Nabiyullah Adam AS adalah karena memakan buah dari pohon khuldi (Pohon dimana Allah sangat mengharamkan bagi Nabi Adam AS untuk sekedar mendekatinya, apalagi memakannya)
Dalam kisah ini pernahkah anda, kita berfikir bahwa bagaimana mungkin Allah SWT yg MAHA BIJAKSANA, MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG “tega” mengusir makhluk yg bahkan malaikat-NYA pun di perintahkan untuk bersujud di hadapannya hanya karena sebuah makanan? Dimana notabene hal itu adalah hal yang “sepele”
Ada rahasia apa di balik kisah tersebut?
Terlepas dari Qodho dan QodarNya, juga terlepas dari kodrat penciptaan Nabi Adam AS sebagai Khalifatullah fil ard. Nabi Adam AS dianggap melakukan kesalahan yang “besar” karena memakan buah yang telah dilarangNYA.
Dalam suatu hadistnya Rasulullah SAW bersabda Hai Ali, barang siapa yang memakan (makanan dan minuman) yang halal, maka agamanya akan menjadi bersih, hatinya akan lunak dan doanya tidak akan terhalang”'.
Lewat hadist di atas Rasulullah menjelaskan betapa makanan bukanlah hal yg sepele, makanan merupakan hal yang memiliki dampak sangat besar terhadap kehidupan manusia, baik secara fisik ataupun perilakunya.
Dalam hadist tersebut mengungkapkan pula nasihat Rasulullah SAW kepada Sayidina Ali Bin Abi Thalib khususnya dan kepada umat islam umumnya bahwa makanan ( lebih khususnya makanan halal ) akan menimbulkan dampak :

·         Agama menjadi bersih.
Kenapa dengan makanan agama menjadi lebih bersih? Sebenarnya makanan yang halal akan meningkatkan tingkat kualitas keimanan seseorang. Bagaimana bisa? Ok, kita semua paham bahwa sesungguhnya makanan adalah bahan bakar bagi tubuh, makanan inilah yg akan menggerakkan tubuh kita. Pasti kita semua akan merasakan lemas dan tak berdaya ketika rasa lapar mendatangi kita, ya karena bahan bakar untuk menciptakan energy tidak ada.

Nah, pengaruh makanan tidak hanya dalam segi jasmani, namun juga rohani. Kalau dalam jasmani makanan bisa menggerakkan tubuh kita, dalam rohani makanan menjadi sumber energy dari perangai dan tingkah laku kita. Dalam konsep ini hanya ada dua kemungkinan perangai jelek dan perangai baik, Dimana hal tersebut di pengaruhi oleh makanan yg halal dan yg haram.

Disinilah letak pengertian sabda Rasulullah SAW bahwa makanan halal akan menjadikan agama bersih. Dengan memakan makanan yg halal otomatis perangai/tingkah laku kita akan semakin baik, dimana perbuatan baik itu akan menyebabkan tingkat keimanan sseorang akan meningkat juga dan tentunya akan lebih mendekatkan pada Allah SWT.

·         Hatinya akan menjadi lunak

Seperti yang kita ketahui bahwa berbagai macam penyakit jasmani di sebabkan oleh tingkat konsumsi kita, ketika tingkat konsumsi kita teratur, sehat, bersih maka sangat dimungkinkan bahwa kita akan selalu sehat.  Seperti halnya pula dengan penyakit rohani, dengan memakan makanan yang halal maka akan sangat dimungkinkan hatinya akan sehat dan bersih. Dalam nalar agama hati yang hidup adalah hati yang sehat dan bersih, hati yang tidak kehilangan rasa kemanusiaannya. Hati yang hidup adalah hati yang lunak, yakni hati yang mudah menerima kebenaran, gampang tersentuh oleh hal-hal yang berbau kemanusiaan dan jauh dari sifat angkara murka.

·         Doanya tidak akan terhalang

Doa merupakan sebuah ibadah, yg semua kita tahu bahwa secara teori jika kita mengerjakan suatu ibadah maka kita harus dalam kondisi yang suci dan bersih. Secara dhohir, secara jasmani bersih adalah terbebas dari segala najis, dan suci adalah terbebas dari segala hadats.
Namun perlu kita ingat juga bahwa kebersihan dan kesucian dalam beribadah bukan hanya dhohir, namun juga batin. Kesucian batin dapat kitabdapatkan dengan mengkonsumsi makanan yang halal serta sebisa mungkin menjauhi dari yang haram. Pada kondisi demikian akan sangat dimungkinkan bahwa ibadah yang kita lakukan akan diterima, dan doa kita akan di kabulkan.

Wallahu a’lam bisshowab…Alhamdulillahirrobbil’alamin…

*sumber kitab “Wasiyatul Musthofa” karangan Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’roni.