Senin, 18 Agustus 2014

Doa dan pertolongan..

Apakah doa dan bantuan kita untuk orang lain adalah untuk mereka? Menurutku tidak, doa dan bantuan kita adalah untuk kita sendiri.,
Gaza misalnya kita membantu mereka untuk mengharap setidakny percikan berkah para syuhada.. Israel kenyang betul dengan kecaman dan kutukan.. mereka tetap berlalu...Palestine kenyang bantuan dan dukungan tp tak bnyak membantu kejamny Israel.. Hanya Allah-lah penolong, itulah bukti kuasaNYA, bahwa kebaikan dan kebenaran tak selalu menang, bahwa kemenangan bukanlah kebebasan tanpa syarat, bahwa kemenangan bukan berarti kuasa, bahwa kemenangan adl perjuangan itu sendiri.. mungkin DIA msh merindukan isak tangis mereka, dan juga umat manusia..
Ya Allah luruskanlah niat kami, agar hanya menolong karenaMU, karena boleh jadi kami menolong karena nafsu (ego) ingin merubah nasib seseorang dgn kemampuan kami. Padahal hanya Engkau Yang Maha Menolong..
Ya Allah jadikanlah kami orang yang menolong karena rasa syukur bahwa Engkau telah memberikan kesanggupan pada diri kami..
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Senin, 17 Maret 2014

Mbok ga usah ada NERAKA

Setiap calon santri di padepokan Sang Sunan, di test dulu bagaimana ia membaca kalimat syahadat. Dan Saridin memiliki lafal dan caranya sendiri dalam bersyahadat. Suatu cara yang Gus Dur saja pasti tidak berani melakukannya, minimal karena badan Gus Dur terlalu subur — sementara Saridin adalah lelaki yang atletis dan seorang pendekar silat yang mumpuni.

Tapi sebelum hal itu diceritakan, karena Saridin khawatir Anda kaget lantas darah tinggi Anda kambuh, maka harus diterangkan dulu beberapa hal mendasar yang menyangkut hubungan antara Tuhan dengan humor.

Sejak mulai akil balig, Saridin secara naluriah maupun perlahan-lahan secara rasional memutuskan untuk melihat dan memperlakukan kehidupan ini sebagai sesuatu yang sangat bersungguh-sungguh — namun ia menjalaninya dengan urat saraf yang santai dan dengan kesiapan humor yang setinggi-tingginya.

Soalnya, diam-diam, jauh di dalam lubuk hatinya, Saridin yakin bahwa Tuhan sendiri sesungguhnya adalah Maha Dzat yang penuh humor….

Memang belum tentu benar, belum tentu baik dan arif, untuk menyebut bahwa Tuhan itu Maha (Peng- atau Pe-) Humor. Di antara 99 asma dan watakNya, tidak terdapat nama Maha Humor. Tapi kalau misalnya di satu pihak Tuhan itu Maha Penyayang dan di lain pihak Ia Maha Penyiksa, atau di satu sisi Ia Maha Pengasih dan di sisi lain Ia Maha Penghukum, atau di satu dimensi Ia Maha Penabur Rejeki tapi sekaligus pada dimensi lain Ia Maha Penahan Rejeki — terpaksa kadang-kadang kita menganggap itu suatu jenis humor. Paling tidak supaya kepala kita tidak pusing.

Ada sih penjelasan kontekstualnya. Tuhan mengasihi atau menyiksa hamba-hambaNya menurut konteks dan posisi nilai yang memang relevan untuk itu. Tuhan mungkin mengasihi siapa saja meskipun mereka mbalelo kepadaNya: Tuhan tetap memelihara napas para maling, Tuhan tidak menyembunyikan matahari dari para perampok, Tuhan tidak menghapus ilmu dari otak para koruptor.

Tapi tidak mungkin Tuhan menyiksa orang yang patuh kepadaNya. Tuhan tidak mungkin menghukum orang yang tak punya kesalahan kepadaNya. Kalau Tuhan menahan rejeki orang yang taat kepadaNya, maka penahanan rejeki itu mungkin merupakan suatu jenis rejeki tertentu yang merupakan metoda agar orang tersebut menghayatinya dan memperoleh nilai yang lebih tinggi. Atau kalau seseorang yang baik kepada Tuhan tapi lantas diberi kemiskinan atau penderitaan, tentu yang terjadi adalah satu di antara tiga kemungkinan.

Pertama, itu teguran. Alhamdulillah dong kalau Tuhan berkenan mengkritik kita. Itu artinya kita punya kans untuk menjadi lebih baik. Kedua, itu ujian. Juga alhamdulillah, karena hanya orang yang disediakan kenaikan pangkat saja yang boleh ikut ujian. Dan ketiga, itu hukuman. Ini lebih alhamdulillah lagi, karena manusia selalu membutuhkan pembersihan diri, memerlukan proses pensucian dan kelahiran kembali.

Jadi menurut Saridin jelas, bahwa bagi mata pandang manusia, ide-ide penciptaan yang Ia paparkan pada alam semesta dan kehidupan, banyak sekali mengandung hal-hal yang kita rasakan sebagai "humor".

Bukan hanya ketika kita melihat perilaku monyet, umpamanya — yang membuat Saridin berpikir: "Ah, ini yang bikin tentu Dzat yang maha pencipta humor, atau sekurang-kurangnya pencipta monyet adalah Entertainer Agung bagi jiwa dahaga manusia…."

Soalnya kelakuan monyet 'kan mirip-mirip Anda….

Juga Anda mengalami sendiri betapa banyaknya hal-hal yang lucu di muka bumi ini, bahkan juga mungkin di luar bumi. Saridin sendiri amat sering tertawa riang atau tertawa kecut kalau melihat atau mengalami kehendak-kehendak Tuhan tertentu. Umpamanya tatkala Adam tinggal di sorga, Tuhan sengaja bikin pohon Khuldi, tapi dilarangnya Adam menyentuh. Tapi pada saat yang sama, Ia ciptakan Iblis untuk menggoda agar Adam melanggar larangan itu — dan akhirnya terjadi benar.

Sehingga beliau beserta istri terlempar ke muka bumi, dan kita semua terpaksa menjumpai diri kita juga tidak lagi di sorga, melainkan di bumi.

Itupun bumi yang sudah dikapling-kapling oleh konsep adanya negara. Oleh adanya organisasi pemerintahan yang kerjanya memerintah dan melarang seperti Tuhan. Kalau Tuhan sih memang berhak seratus persen memerintah dan melarang karena memang Ia yang menciptakan kita dan semua alam ini, serta yang menyediakan hamparan rejeki dan menjamin hidup manusia.

Tapi pemerintah 'kan nyuruh kita cari makan sendiri-sendiri. Kalau kita kelaparan atau dikubur hutang, kita tidak bisa mengeluh kepada pemerintah.

Hubungan kita dengan pemerintah hanya bahwa kita sebuah berada di bawah kekuasaannya tanpa ada jaminan bahwa kalau kita mati kelaparan lantas mereka akan menangisi kita dan menyesali kematian itu. Semakin banyak di antara kita yang mati, secara tidak langsung program KB akan semakin sukses.

Soal ini memang tergolong paling lucu di dunia. Kalau di negara sosialis dulu, rakyat dijamin kesejahteraannya meskipun minimal, namun sama rata sama rasa — dengan catatan tidak boleh mbacot, tidak boleh membantah, alias tidak ada demokrasi. Kalau di negeri kapitalis, setiap orang memiliki hak bicara, hak ngumpul dan berserikat — tapi dengan syarat harus cari makan sendiri-sendiri, harus mandiri dan berani bersaing, berani jadi gelandangan kalau kalah.

Lha Anda adalah rakyat yang hidup di negeri yang mengharmonisasikan dua keistimewaan dari negeri sosialis dan negeri kapitalis. Anda tidak usah banyak bicara, tak usah membantah, tak perlu protes-protes, karena toh makan dan kesejahteraan hidup Anda harus Anda jamin sendiri….

Departemen Sosial, Polsek, Babinsa, Koramil, Majelis Ulama, ICMI, PCPP, YKPK, PNI-Baru maupun Neo-Masyumi, tidak menjamin bahwa Anda beserta keluarga akan tidak sampai kelaparan.

Bahkan pada saat-saat kita tidak paham pada takdirnya yang menimpa kita, dan itu mungkin menyedihkan, demi supaya kita tetap survive secara psikologis — seringkali kita anggap saja itu semua adalah Humor dari yang Maha Kuasa.

Misalnya saja soal Pak Adam di sorga itu. Kalau kita boleh bermanja kepada Tuhan, mbok ya biarkan saja beliau menghuni sorga. Mbok ya Tuhan ndak usah menciptakan Setan, Iblis dan sebangsanya itu. Mbok ya langsung saja manusia yang merupakan hasil ciptaan terbaik ini ditakdirkan saja untuk menghuni sorga, sehingga Tuhan tak usah juga bikin neraka.

Soalnya gara-gara Iblis menang dan sukses dalam menggoda Adam, lantas di dalam perkembangan dunia maupun pembangunan kebudayaan nasional — Setan dan Iblis malah mendapatkan peluang yang besar untuk menjadi idola.

Dalam praktek-praktek kehidpan politik, dalam mekanisme perekonomian dan dunia bisnis, dalam soal-soal pembebasan tanah, soal kebebasan asasi manusia dan lain sebagainya — Setan banyak menjadi wacana utama. Para penguasa tertentu dan pemegang modal besar tertentu, banyak memperlakukan Iblis sebagai mitra-kerja, dengan alasan: "Alah, wong Pak Adam saja juga kalah waktu digoda oleh blis kok…."

Itulah sebabnya Saridin, ketika diperintah oleh Sunan Kudus untuk bersyahadat, memutuskan untuk menempuh suatu cara yang membuktikan bahwa ia bukan saja tidak takut melawan Iblis dan Setan — Saridin bahkan membuktikan bahwa ia tidak takut mati. Saridin membuktikan bahwa Saridin lebih besar dibanding kematian….

Demokrasi Tolol versi Saridin (Penerbit Zaituna, 1997)
dipublikasikan oleh CakNun.com


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Selasa, 18 Februari 2014

Mautul 'alim mautul 'alam

Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un..telah wafat al-Maghfurlah al-Allamah KH. Zainil Abidin Munawwir (Pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta)

Dalam waktu singkat banyak banget ulama-ulama dg kapabilitas "shahih" wafat..KH. Sahal, Habib Mundzir, dan beberapa kyai lain yg otomatis tercerabut pula ilmu daripadanya. Juga datangnya bencana secara bertubi-tubi hendaklah cukup peringatan akan adzab yg lbh besar untuk Indonesia umumnya dan Islam khususnya.

Demikian semakin banyak mulai ustadz-ustadz "palsu" bertebaran, hendaknya kita dapat memilah memilih dan sangat berhati-hati menjalani hidup.

Berikut petikan ceramah Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) di Krapyak

"Karena orang awam tak bisa memahami langsung al-Quran dan Hadist, Maka para imam madzhab membuat "buku pintar" dalam kitab-kitabnya. Kitab-kitab yg jd buku pintar itu dibuat oleh imam madzahib memudahkan kita yg awam dlm masalah agama, ada tata cara ibadah dll.
Banyak aliran yg menyimpang krn tdk mengkuti ulama madzhab, merasa pintar menafsirkan al-Quran dan Hadist tanpa ilmu yg cukup. Walaupun orang itu jenggotnya sampai pusar dan jidatnya hitam, tapi tak punya akhlak dan kasih sayang kepada umat tak pantas disebut ulama.
Disebut ulama krn dia pewaris Nabi sang Kekasih, mewariskan keluhuran akhlak, budi pekerti dan welas asih kpd semua makhluk. Dulu Nabi punya 2 sahabat, Abu bakar dan Umar bin khattab, 2 karakter yg bertolak belakang, satunya berwatak lembut dan satunya keras.
Umat Islam saat ini banyak kehilangan ulama yg jd teladan, setelah mbah Sahal menyusul mbah Zainal. Allahummaghfirlahuma..
Setelah ulama banyak dipanggil Allah, ilmu juga dicabut dgn meninggalnya para ulama, mulai banyak yg mengaku ulama tp sesat dan menyesatkan.

Mautul 'alim mautul 'alam. Matinya ulama kerugian bagi alam"
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Senin, 17 Februari 2014

Ilmu

Man aroda dunya fa 'alaihi bil 'ilmi, wa man aroda akhiro fa 'alaihi bi 'ilmi, wa man aroda huma fa 'alaihi bi 'ilmi..ma huwa i'lm? 'Amal..

Barangsiapa menginginkan dunia menjadi miliknya, maka hal itu bisa di dapat dengan ilmu..dan barangsiapa menginginkan akhirat menjadi miliknya, maka hal itu juga bisa di dapat dengan ilmu..apakah ilmu itu? Ialah amal perbuatan..

Banyak diantara kita, juga termasuk saya, hanya mengetahui ilmu tanpa di amalkan, terutama bila yg menyangkut ilmu akhirat.. Kita selalu bilang bahwa kita menginginkan kebahagiaan akhirat, tetapi yg sering terjadi adalah kita hanya mengamalkan ilmu dunia. Sedangkan ilmu akhirat hanya sekedarnya saja, sisa-sisa tenaga dr pengamalan ilmu dunia.

Ya memang sih amal dunia bisa d'anggap amal akhirat jika niatnya bener, tapi apa emang sudah bener gitu niat amal dunia kita sehingga bisa di kategorikan amal akhirat? Lha wong untuk amal akhirat saja niat kita kadang masih salah.

Jadi masih panteskah kalau kita tak mengamalkan ilmu tapi mengharap surga? Ngarep sih boleh, ndak masalah, tapi namanya juga ngarep ya kudu di siapin juga hati kalo ternyata kita sedang di PHP-in ilmu kita..
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Question

Kehidupan selalu menyajikan berbagai cerita, entah itu bahagia, sengsara, ataupun tanpa rasa. Tak banyak orang yg mampu menciptakan cerita hidupnya (jika memang cerita kehidupan bisa di ciptakan), pun diriku. Aku hanya mampu berjalan mengikuti skenario yg tak pernah aku baca. Aku terkadang hanya mampu menebak bagaimana jalan skenario tersebut, tapi lebih banyak aku terkejut dengan situasi yg ada.

Menciptakan cerita kehidupan dikatakan oleh sebagian orang bisa diciptakan, mereka menciptakan dengan cara berjuang keras mewujudkan apa yg di pikirkannya. Tapi apakah itu yg disebut menciptakan?

Entah bagaimana Qodho dan Qodar itu berlaku, aku hanya percaya ia ada.
Apakah seseorang itu bekerja keras itu sudah di skenariokan atau kehendaknya sendiri?
Apakah orang malas itu sudah di skenariokan atau kehendaknya sendiri?
Apakah seseorang berbuat baik itu sudah di skenariokan atau kehendaknya sendiri?
Apakah seseorang berbuat jahat itu sudah di skenariokan atau kehendaknya sendiri?
Bahkan daun jatuh pun atas ijin-NYA, lalu apa lantas kejahatan dan kemaksiatan juga berlaku atas ijin-NYA? Jika memang seperti itu mengapa pula di hukum ketika kejahatan dan kemaksiatan bekerja?
Jika demikian semua yg bergerak di alam raya adalah atas ijin-NYA, mengapa pula tak di ciptakan-NYA dunia yg hanya taat kepada-NYA?
Ya aku tau bahwa jika pun seluruh makhluk taat tak akan menambah secuil pun kekuasaan-NYA, juga ketika seluruh makhluk ingkar tak akan mengurangi secuil pun kekuasaan-NYA..
Jika semua berlaku atas ijin-NYA, mengapa pula disediakan-NYA surga dan neraka?
Se-abadi apa surga dan neraka itu? Bukankah hanya DIA-lah yg abadi? Bukankah tak satupun makhluk menyerupai-NYA?
Lantas apa yg harus aku kejar Ya Rabb? Untuk apa aku KAU ciptakan? Skenario apa yg sedang KAU siapkan? Apa yg seharusnya aku pahami? Apa yg seharusnya aku jalani?
Semua ini hanyalah milik-MU, diriku, jiwaku, ah aku salah lagi..bukankan ini adalah diri-MU? Jiwa-MU? Lalu aku? Apakah aku? Apakah benar-benar ada aku ketika semua adalah ENGKAU??
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Kamis, 06 Februari 2014

marah..

kenapa sih kita ga boleh membenci seorang pun ? mangkel, marah sih boleh saja, tapi ndak lebih dari 3 hari to? kenapa bgitu?

kalo dari aku pribadi sih, selain marah itu ndak enak (nyesek gitu kaan..) juga bisa matiin hati sendiri...     

selain itu kesalahan yg bagaimana sih yg bisa bikin kita marah lebih dari  3 hari? I think nothing...hanya orang yg "sedeng" aja yg bisa..

sejahat-jahat nya orang yang di bilang di Qur'an, si Fir'aun pun punya kebaikan..apalagi manusia lain..ya kan?
bayangkan aja orang jaheat gitu masihe mau ngerawat musuh-nya, dari bayi pula..kurang apa coba?

siapa lagi? Abu Lahab? dia pun punya banyak kebaikan...salah satunya dia bergembira ketika Nabi di lahirkan...

jadi masih mau saling tengkar dan benci? apalagi pada orang yang mungkin bertahun-tahun menemani kita... think smart..:)

Senin, 03 Februari 2014

Siapakah aku?

Ketika pada suatu waktu aku pernah terjebak dalam satu halusinasi kehidupan. Aku bergerak bebas, berbicara lantang, berjalan, berlari, dan bergembira, namun itu hanya secuil pribadiku yg nampak.

Dalam kedalaman hati, sementara tubuhku bergerak hatiku terdiam, sementara aku berbicara lantang hatiku terdiam, sementara aku berjalan hatiku terduduk, sementara aku berlari hatiku bersimpuh, dan sementara aku bergembira hatiku meronta.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi,
siapalah aku?
Aku adalah awang, tp apakah jika bukan awang, aku akan menjadi seorang lain?
Siapakah aku?
Bukankah aneh bahwa aku tak tahu siapa diriku?
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone